Kamis, 31 Oktober 2013

Kisah Inspiratif Entrepreneur: Menjaga Kepercayaan Sepanjang Waktu

Suatu hari saat sedang bersantai bersama keluarga di hari libur, Ayah saya memberikan saya sebuah buku yang baru dibelinya. Ayah dan saya memang mempunyai hobi yang sama yaitu membaca. Biasanya ayah akan meminjamkan saya buku-buku novel yang ia miliki untuk dibaca bersama pada hari libur. Namun hari itu berbeda. Ayah memberikan saya sebuah buku berjudul "55 Kisah Inspiratif Entrepreneur". Pada awalnya saya tidak tertarik. Namun, karena tidak enak pada ayah, saya pun membacanya. Ada satu cerita inspiratif yang menarik perhatian saya. Berikut ceritanya dikutip dari buku "55 Kisah Inspiratif Entrepreneur". Semoga dapat menginspirasi para pengusaha dan calon pengusaha di Indonesia :)



Menjaga Kepercayaan Sepanjang Waktu

Saat krisis keuangan melanda Barat dan dunia mengalami resesi perekonomian. Stefan Persson dari Swedia malah menaikkan peringkatnya sebagai orang terkaya Forbes, dari nomor 35 pada tahun 2008 ke nomor 18 pada 2009. Hal ini disebabkan oleh harga saham perusahaannya H&M (Hennes & Mauritz), yang naik sebesar 20% pada paruh pertama tahun 2009.

Stefan Persson adalah salah seorang dari mereka yang mewarisi usaha keluarga dan berhasil melesatkan bisnis tersebut ke tingkat internasional. H&M, perusahaan ritel pakaian internasional ini. didirikan oleh ayahnya, Erling Persson, di Västerås, sebelah utara Stockholm, Swedia, pada 1947, yaitu tahun saat Stefan lahir. Erling sebelum itu berprofesi sebagai salesman. Dalam suatu perjalanan dinas ke Amerika Serikat, Erling takjub menyaksikan konsep pertokoan dan ritel pakaian Amerika, dengan beragam produk dan kualitas serta harga terjangkau. Saat itu belum ada pertokoan serupa itu di Swedia.

Tak lama setelah ia pulang dari Amerika, Erling mendirikan toko pakaian perempuan bernama Hennes, menawarkan produk dengan harga terjangkau dan gaya yang modis. Usaha lokal itu segera bersemi. Bagi kebanyakan perempuan di Kota Västerås, produk Hennes sangat mewakili semangat dan kesegaran pasca perang di Swedia. Pada 1968, Erling sanggup membeli toko alat pemancingan dan berburu, Mauritz, yang kemudian menjadi lini produksi untuk laki-laki. Lini produksi pakaian anak juga dibentuk dan cabang-cabang pun bertambah, bahkan merambah Denmark dan Norwegia, negara-negara tetangga. Pada 1972, Stefan direkrut ayahnya untuk menangani pembukaan toko di London. Stefan dengan gagasannya untuk membagikan CD ABBA sebagai promosi, berhasil menciptakan sorotan. Empat tahun kemudian ia membuka toko kedua H&M di ibu kota Inggris tersebut. Sementara itu, pada 1976 Erling sudah mendaftarkan H&M ke bursa saham Swedia, meski keluarganya tetap menguasai saham mayoritas.

Stefan kuliah di University of Stockholm. Pada tahun 1982, ayahnya pensiun. Stefan lalu mengambil alih kepemimpinan. Sepanjang dekade 1980-an itu, dalam tempo yang lambat tapi pasti, H&M terus meluaskan jaringannya. Mulai dari Jerman, Belanda, Prancis, Amerika Serikat, Cina, Jepang, Russia, Turki, Korea Selatan, Singapura, hingga baru-baru ini Thailand dan Indonesia.

H&M menjadi demikian besar berkat antisipasinya yang baik dalam lingkungan industri ritel busana yang memiliki tantangan tinggi pada setiap zamannya. Tren pakaian selalu berubah. Namun, secara cerdas Stefan menganggap hal itu sebagai aspek produk yang mudah hancur. Jadi manajemen perusahaan harus senantiasa menjaga produk tetap segar dan dinamis. Salah satu tonggak keberhasilan H&M adalah ketika Stefan terbukti sangat siap menyambut era 1990-an. Waktu itu "global fashion" yang dihadirkan melalui popularitas MTV, Hollywood, kemudian internet, merasuki generasi muda dan generasi lainnya di seluruh dunia.

Stefan mempekerjakan para perancang busana yang peka tehadap tren dan mampu mengubah gagasan menjadi pakaian berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. H&M juga memiliki kepedulian lingkungan yang besar dan menjadi konsumen katun organik terbesar di dunia, yang menjadi bahan baku utama produknya. Untuk menghemat ongkos produksi, H&M menempatkan pabrik-pabriknya di negara-negara dunia ketiga, dengan standar SDM yang diperhatikan secara cermat.

Landasan filosofis H&M terkait erat dengan kepribadian pekerjanya. Gagasan tiap orang dipandang berharga, sehingga kebijakan perusahaan bersifat sangat antidiskriminatif dan terbuka. Cabang baru biasanya diisi dengan tenaga kerja lokal, yang dilatih oleh pekerja lokal lain dari cabang lain. Dengan kata lain, kepribadian dijadikan aset terpenting. Manajemen perusahaan percaya bahwa orang-orang yang diperbolehkan menjadi diri mereka sendiri akan melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Stefan-lah yang memperkuat pijakan yang diciptakan oleh ayahnya, menghidupkan budaya perusahaan yang positif, dan berhasil menjaga reputasi perusahaannya selama lebih dari dua dekade.

Saat ini ada 94.000 lebih pekerja yang tersebar di 2.500 toko, tersebar luas di lebih dari 40 negara di dunia. Kepercayaan pelanggan dan pemegang saham pada kiprah perusahaan ini begitu kuat sehingga pada gilirannya mendorong kenaikan saham, bahkan saat krisis perekonomian mengguncang dunia bisnis internasional.

Dengan kekayaan sebesar 26 juta dolar, Stefan Persson menjadi orang terkaya di Swedia saat ini, ke-8 terkaya di dunia. Pandangannya tentang bisnis lekat dengan soal-soal kemasyarakatan. Menurut Stefan, "Perusahaan adalah bagian dari masyarakat, jadi perusahaan harus punya perhatian terhadap persoalan sosial dan mengambil tanggung jawab sosial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar