Jumat, 07 Juni 2013

Stres


Kata stres umumnya sering digunakan ketika kita merasa segala sesuatu tampaknya telah menjadi terlalu banyak - kita kelebihan beban dan bertanya-tanya apakah kita benar-benar dapat mengatasi tekanan yang datang kepada kita.
Stres yang jelek adalah stress yang terlalu kuat dan bertahan lama. Stres ini bisa mengganggu jasmani maupun rohani. Misalnya siswa yang mengalami stress terus menerus karena tuntutan belajar yang terlalu berat dan tidak sesuai dengan kemampuan. Stres yang terus menerus bisa juga timbul karena polusi udara dan kebisingan, kepadatan dan kemacetan lalu lintas, tindak kejahatan, beban kerja yang berlebihan. Stres berat juga bisa dialami seseorang karena kehilangan orang yang dicintai dalam kecelakaan atau bencana alam.
Stres yang timbul pada setiap  orang pun bisa berbeda-beda, walaupun peristiwa yang dialami itu sama. Peristiwa tertentu yang membuat seseorang mengalami stres berat bisa saja hanya menimbulkan stres ringan pada orang lain. Bahkan dampak stress itu sendiri bisa berbeda pada setiap orang. Stres yang bagi seseorang dianggap menghancurkan, bagi orang lain bisa merupakan tantangan. Ada orang yang menjadi sangat kreatif dan produktif justru dalam keadaan stress. Ada siswa yang justru baru belajar secara efektif pada saat menjelang ujian.


J. P. Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi mendefinisikan stress sebagai suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Hal senada diungkapkan dalam Atkinson (1983), stress terjadi ketika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik maupun psikologisnya. Keadaan sosial, lingkungan, dan fisikal yang menyebabkan stress dinamakan stressor. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stres, atau secara singkat dinamakan stres.
Menurut Lazarus 1999 (dalam Rod Plotnik 2005:481) “Stres adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untk bisa menanganinya secara memadai”.

Faktor-Faktor yang Menimbulkan Stres
Berikut ini dikemukakan beberapa peristiwa yang merupakan sumber stres:
1.       Peristiwa Traumatik
Yang dimaksudkan dengan peristiwa traumatis adalah situasi bahaya ekstrim di luar rentang pengalaman manusia yang lazim.  Contoh: bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami dan banjir; bencana buatan manusia, seperti perang, kecelakaan nuklir; kecelakaan yang mengerikn, seperti tabrakan mobil, jatuhnya pesawat; penyerangan fisik seperti pembunuhan dan pemerkosaan.
2.       Peristiwa yang tidak dapat dikendalikan
Semakin besar peristiwa yang tidak dapat dikendalikan, semakin besar pula kemungkinan stres yang ditimbulkannya. Peristiwa besar yang tidak dapat dikendalikan misalnya, ditinggal mati orang yang dicintai, terserang penyakit serius, dipecat dari jabatn. Sedangkan peristiwa ringan yang tidak dapat dikendalikan, misalnya, tidak mendapatkan maaf dari teman, terlambat tiba dalam suatu acara karena kemacetan lalu lintas, keberangkatan tertunda karena tiket pesawat habis. Salah satu alas an mengapa peristiwa yang tidak dapat dikendalikan itu menyebabkan stres adalah karena orang tidak mampu mengontrol terjadinya peristiwa itu.
3.       Konflik Internal
Stres juga dapat muncu dari faktor internal yang tidak terpecahkan, baik yang disadari maupun tidak disadari. Konflik terjadi apabila seorang individu harus memilih antara dua tujuan atau dua tindakan yang tidak sejalan. Contoh, ketika kita ingin bersama keluarga menghadiri undangan pernikahan salah satu kerabat di Banyuwangi, sekaligus berlibur ke Bali; tetapi pada saat yang sama kita dijadwalkan untuk menghadapi siding skripsi. Kondisi konflik seperti itu dapat menimbulkan stres. Contoh lainnya, ada dua tujuan yang sama-sama menarik, misalnya ketika kita mendapatkan dua macam tawaran pekerjaan yang sama-sama menarik, sehingga sulit menjatuhkan pilihan. Situasi seperti ini berpotensi menimbulkan stres.

1.       Kepribadian Introvert dan Ekstrovert
Introvert adalah sebuah sifat dan karakter yang cenderung menyendiri. Mereka adalah pribadi yang tertutup dan mengesampingkan kehidupan sosial yang terlalu acak. Individu yang memiliki kepribadian tipe ini, biasanya lebih senang memendam perasaannya dibandingkan mengungkapkannya kepada orang lain. Begitupun bila mengalami stres, mereka lebih senang memikirkan masalahnya sendiri secara mendalam sendirian atau membaginya hanya kepada orang yang benar-benar ia percaya.

Antonim dari sifat Introvert adalah Ekstrovert. Sifat Ekstrovert lebih membutuhkan sosial, cahaya, kebisingan, ruang lingkup yang luas dan sebagainya. Sedangkan Introvert lebih membutuhkan sebuah teh hangat dan berkumpul bersama beberapa teman dekat saja daripada pergi ke tempat yang penuh dengan orang asing. Introvert membenci basa-basi, oleh sebab itu mereka senang dengan perbincangan yang padat dan bersifat informatif.

2.       Fleksibel dan Rigid
Tipe orang yang fleksibel adalah mereka yang selalu tepat mengkondisikan diri, mudah beradaptasi, luwes, dan mudah bergaul. Hal ini menggambarkan bahwa pribadi yang fleksibel tidak mudah untuk mengalami stres karena kemampuan mereka yang mampu beradaptasi dengan keadaan. Sedangkan rigid adalah kebalikannya memiliki sifat yang kaku, dan hal ini akan bisa membuat pribadi rigid mengalami stres dengan mudah. Karena jika  ada suatu hal yang menurutnya tidak berjalan semestinya, maka akan menimbulkan stres bagi pribadi rigid tersebut.

3.       Over Activity (Agresi)
Agresi merupakan salah satu akibat dari puncak stres.

Kecakapan:
Kecakapan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik. Dalam hal ini, kemampuan individu dalam menangani masalahnya atau stres itu tadi.

Nilai dan Kebutuhan:
Sosialisasi, adaptasi, dan internalisasi, apabila individu tidak mampu melakukan hal tersebut, maka hal tersebut akan menimbulkan stres.

Reaksi Stres:
·         Flight: Individu cenderung melarikan diri dari masalahnya.
·         Fight: Dalam menghadapi stres, individu memilih untuk melawan stres tersebut dengan cara mencari jalan keluar untuk masalahnya tersebut.



Teknik Penenangan Pikiran:

1.     Meditasi
Semadi atau meditasi adalah praktik relaksasi yang melibatkan pelepasan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup kita sehari-hari. Makna harfiah meditasi adalah kegiatan mengunyah-unyah atau membolak-balik dalam pikiran, memikirkan, merenungkan. Arti definisinya, meditasi adalah kegiatan mental terstruktur, dilakukan selama jangka waktu tertentu, untuk menganalisis, menarik kesimpulan, dan mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk menyikapi, menentukan tindakan atau penyelesaian masalah pribadi, hidup, dan perilaku.

Dari sudut pandang fisiologis, meditasi adalah anti-stres yang paling baik. Saat mengalami stres, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, pernapasan menjadi cepat dan pendek, dan kelenjar adrenalin memompa hormon-hormon stres. Selama melakukan meditasi, detak jantung melambat, tekanan darah menjadi normal, pernapasan menjadi tenang, dan tingkat hormon stres menurun.

2.     Autogenik
Autogenik berarti sesuatu yang berasal dari dalam diri Anda. Dalam teknik relaksasi, autogenic menggunakan citra visual dan kesadaran tubuh untuk mengurangi stres. Dalam tekhnik ini, kita mengulang kata-kata atau saran dalam pikiran untuk membantu diri menjadi rileks dan mengurangi ketegangan otot. Kita dapat membayangkan tempat damai dan kemudian fokus, pernapasan santai, memperlambat detak jantung, atau merasa sensasi fisik yang berbeda, seperti santai pada kaki atau lengan satu per satu.

3.     Neuromuscular
Relaksasi neuromuscular adalah satu program yang terdiri dari latihan-latihan sistematis yang melatih otot dan komponen-komponen saraf yang mengendalikan aktivitas otot. Individu diajari untuk secara sadar mampu merelaksasikan otot sesuai dengan kemauannya setiap saat. Untuk itu perlu dikembangkan kesadaran perasaan pikiran tentang bagaimana rasa relaks adn mempelajari bagaimana perbedaanya jika sedang tegang.



Pengalaman Penulis Mengenai Stres
1.       Pengalaman Distres (Negatif)
Pada saat saya masih kelas 6 SD, saya diharuskan belajar dengan giat demi menghadapi ujian kelulusan saya, yaitu UN atau Ujian Nasional. Karena saya merupakan anak pertama dalam keluarga saya, orangtua saya sangat berharap saya dapat melalui ujian tersebut dengan sangat baik agar menjadi contoh yang baik untuk adik-adik saya. Dalam upaya menghadapi ujian nasional, tentunya banyak anak-anak sekolah dasar seusia saya saat itu mengikuti bimbingan belajar. Tetapi saya bukan termasuk salah satu diantara mereka. Saya tidak mengikuti bimbingan belajar di tempat kursus seperti anak-anak lain. Saya hanya belajar murni di sekolah dan di rumah saja. Sayangnya, saat itu orang tua saya sering berpergian keluar kota untuk urusan pekerjaan sehingga saya kesulitan untuk belajar dirumah. Semakin mendekati hari ujian, saya pun mengalami stres karena ketidakpercayaan diri saya yang tidak mengikuti bimbel. Saya melampiaskan rasa stres saya tersebut dengan bermain game dan akhirnya saya kecanduan bermain game hingga pagi. Hal ini mengakibatkan saya sering kesiangan dan akhirnya saat hari ujian tiba, saya terlambat datang ke tempat ujian. Saya tidak dapat berkonsentrasi dalam mengerjakan ujian sehingga hasil akhir ujian saya tidak memuaskan.

2.       Pengalaman Eustres (Positif)
Universitas tempat saya berkuliah, yaitu Universitas Gunadarma, diundang untuk mengikuti kejuaraan olahraga hockey di salah satu perguruan tinggi saat akhir bulan Juni nanti. Di kampus, saya kebetulan mengikuti UKM Hockey tersebut. Semakin mendekati hari H kejuaraan, saya semakin tegang dikarenakan saya merasa bahwa kemampuan dan tekhnik saya dalam bermain hockey masih kurang untuk menghadapi kejuaraan.  Rasa tegang atau stres tersebut pun memacu saya untuk rajin berlatih menyiapkan diri saya untuk menghadapi kejuaraan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar