Kamis, 31 Oktober 2013

Mengendalikan Fungsi Manajemen


Pengawasan, Pengendalian atau Controlling adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud tercapai tujuan yang sudah ditetapkan semula. 

Controlling atau pengawasan adalah fungsi manajemen dimana peran dari personal yang sudah memiliki tugas, wewenang dan menjalankan pelaksanaannya perlu dilakukan pengawasan agar supaya berjalan sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan. Di dalam manajemen perusahaan yang modern fungsi control ini biasanya dilakukan oleh divisi audit internal.

Pengawasan merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi manajemen yang lain, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Dalam hal ini, Louis E. Boone dan David L. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai: “the process by which manager determine wether actual operation are consistent with plans”.

Sementara itu, Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan, bahwa: “pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan – tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.”

Dengan demikian, pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya.

Terdapat tiga langkah penting dalam proses pengawasan manajerial yaitu:
  1. Mengukur hasil/prestasi yang telah dicapaioleh staf atau organisasi
  2. Membandingkan hasil yang telah dicapai dengan tolok ukur.
  3. Memperbaiki penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sesuai dengan faktor-faktor penyebabnya, dan menggunakan, dan menggunakan faktor tersebut untuk menetapkan langkah-langkah intervensi.
    Jenis-jenis Pengawasan
  1. Pengawasan fungsiomal (struktural). Fungsi pengawasan ini melekat pada seseorang yang menjabat sebagai pimpinan lembaga.
  2. Pengawasan publik. Pengawasan ini dilakukan oleh masyarakat.
  3. Pengawasan non fungsional. Pengawasan ini biasanya dilakukan oleh badan-badan yag diberikan wewenang untuk melakukan pengawasan seperti DPR, BPK, KPK, dan lain-lain.
     Proses Pengendalian Manajemen
Proses pengendalian manajemen adalah kegiatan yang digunakan  oleh seluruh manajemen untuk menjamin bahwa anggota organisasi bawahan yang disupervisi  akan mengimplementasikan strategi yang ditetapkan

Actuating dalam Manajemen


Pelaksanaan atau penerapan (actuating) merupakan implementasi dari perencanaan dan pengorganisasian, dimana seluruh komponen yang berada dalam satu sistem dan satu organisasi tersebut bekerja secara bersama-sama sesuai dengan bidang masing-masing untuk dapat mewujudkan tujuan.

Dari seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen, sedangkan fungsi actuating justru lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi

George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.

Menurut Kurniawan (2009) prinsip-prinsip dalam penggerakan/actuating antara lain:
1. Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya
2. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia
3. Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi
4. Menghargai hasil yang baik dan sempurna
5. Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih
6. Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup
7. Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya

Pengorganisasian dan Struktur Manajemen


Organisasi menurut Tossi, Rizzo dan Carroll (1994) adalah sekelompok orang, bekerja untuk mencapai tujuan organisasinya, yang mengembangkan dan memelihara pola perilaku yang relatif stabil dan dapat diprediksi, meskipun individu dalam organisasi dapat berubah. Biasanya kita menggambarkan organisasi dalam hal bagaimana mereka berbeda pada tiga dimensi: kompleksitas, formalisasi, dan sentralisasi

Sedangkan menurut Pfiffner dan Sherwood, organisasi merupakan suatu pola dari cara-cara dalam mana sejumlah orang yang saling berhubungan, bertemu muka, secara intim dan terkait dalam suatu tugas yang bersifat kompleks, berhubungan satu dengan yang lainnya secara sadar, menetapkan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan semula secara sistematis

Organisasi ditandai adanya kepemimpinan, dan hal ini termasuk kedalam salah satu faktor penting bagi keorganisasian, seperti ungkapan Davis yang menyebutkan bahwa “Organization is any group of individual that is working toward some common end under leadership.”(organisasi adalah suatu kelompok orang yang sedang bekerja ke arah tujuan bersama dibawah kepemimpinan (Davis, 1951,).
Secara sederhana, organisasi bisa diartikan sebagai suatu alat atau wadah kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Sebuah organisasi tidak akan bisa lepas dengan yang namanya struktur organisasi karena struktur organisasi adalah cara suatu aktivitas organisasi dibagi, diorganisir, dan dikoordinasikan.  

Menurut Ernest Dale, sebuah struktur organisasi harus memuat tentang 5 hal  sebagai berikut:
  • Daftar pekerjaan yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi
  • Membagi jumlah beban kerja dalam tugas-tugas atau biasa disebut pembagian kerja (division of work)
  • Menggabungkan tugas-tugas dalam keadaan yang logis dan efisien atau departementalisasi (departmentalization)
  • Menetapkan mekanisme untuk koordinasi
  • Memonitor efektivitas struktur organisasi dan melakukan penyesuaian apabila diperlukan
Organisasi tidak dapat berjalan tanpa adanya pengorganisasian yang baik. Menurut Siagian (1983) pengorganisasian adalah keseluruhan pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas, tugas,kewenangan dan tanggung jawab sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kegiatan kesatuan yang telah ditetapkan.

Tujuan pengorganisasian adalah agar dalam pembagian tugas dapat dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Dengan pembagian tugas diharapkan setiap anggota organisasi dapat meningkatkan keterampilannya secara khusus (spesialisasi) dalam menangani tugas-tugas yang dibebankan. Apabila pengorganisasian itu dilakukan secara serampangan,   tidak   sesuai dengan   bidang   keahlian seseorang,   maka   tidak mustahil dapat   menimbulkan   kegagalan dalam penyelenggaraan pekerjaan   itu.

Kamis, 10 Oktober 2013

Ciri - Ciri Manajer Puncak yang Berhasil


Ciri – Ciri Manajer Puncak yang Berhasil

Bennis dan Nanus (1985) menemukan dalam penelitian mereka terhadap 90 pemimpin dimana semuanya merupakan chief executive officers, memiliki empat macam keterampilan dalam menangani manusia, yang mereka namakan:
1.       Attention through vision. Pemimpin harus mempunyai visi atau bayangan masa depan. Usaha mereka sangatlah jeas dan menarik perhatian orang.
2.       Meaning through communication. Visi dari pemimpin harus dapat dikomunikasikan oleh pemimpin kepada bawahannya secara jelas dan terperinci.
3.       Trust through positioning. Jika visi telah dikomunikasikan, maka visi perlu diimplementasi. Positioning adalah perangkat tindakan yang diperlukan untuk mengimplementasikan vision atau visi dari pemimpin. Melalui penetapan kedudukannya, kepemimpinan memantapkan kepercayaan. Untuk mendapatkan kepercayaan dari para pengkutnya, pemimpin harus berprilaku konsisten dan tetap berada pada jalur yang teah disepakati.
4.       The Deployment of self through positive self-regard and through the wallenda factor. Faktor utama dari pemimpin yang berhasil ialah peluasan kreatif dari diri, yang dapat dilakukan melalui menghargai diri secara positif. Menurut Bennis dan Nanus, menghargai diri secara positif bukan merupakan pemusatan pada diri yang egoistic, melainkan terdiri dari tiga komponen utama: pengetahuan tentang kekuata-kekuatannya; kemampuan untuk merawat dan mengembangkan kekuatan-kekuatan tersebut; kemampuan untuk secara tajam melihat perbedaan antara kekuatan-kekuatan dan kelemahannya dengan kebutuhan organisasi.

Perluasan diri melalui factor Wallenda pada hakikatnya berarti bahwa dalam melakukan berbagai macam hal kita harus memusatkan perhatian kita pada apa yang akan dilakukan dan tidak memikirkan tetang kemungkinan akan kegagalan. Karl Wallenda adalah seorang acrobat yang jalan di atas tali yang dapat meninggal setiap kali ia jalan di atas tali pada ketinggian tertentu. Ia tidak pernah memikirkan kegagalan. Pada tahun 1987 ia terjatuh dan meninggal. Istrinya ingat bahwa pada hari itu untuk pertama kalinya Wallenda berpikir tentang kegagalan. Rupanya ia mencurahkan seluruh tenaganya pada usaha untuk tidak jatuh dan bukan jalan di atas tali.
Sandiwan Suharto melaporkan hasil survey yang dilakukan Bernadette Setiadi tentang ciri-ciri pemimpin, yang oleh para manaher puncak (chief executive officers) dianggap berhasil, yang disajikan dalam ‘Leadership Seminar’ tahun 1998 di Jakarta, dalam majalah Manajemen (1998). Bernadette Setiadi menemukan bahwa empat ciri yang paling sering disebut oleh para CEO ialah integritas, memiliki visi, memiliki keterampilan komunikasi yang baik, dan mampu memberdayakan bawahan (empowerment).

sumber: Munandar, Sunyoto Ashar. Psikologi Industri dan Organisasi. 2004. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia

Manajemen Pendidikan

Pengertian manajemen pendidikan 

Manajemen pendidikan adalah satu cabang ilmu yang usianya relatif tetap muda hingga tidaklah aneh jika banyak yang belum mengetahui. Arti lama yang kerap dipakai yaitu ‘administrasi’. Untuk memperjelas pengertian manajemen, tampaknya butuh ada penjelasan lain yang lebih beragam mengenai arti manajemen.

Manajemen pendidikan didalam kamus bhs belanda-indonesia dijelaskan bahwa arti manajemen datang dari “administratie” yang bermakna tata-usaha. Didalam pengertian manajemen tersebut, administrasi menunjuk pada pekerjaan catat-menulis di kantor. Pengertian inilah yang mengakibatkan munculnya perumpamaan-contoh keluhan kelambatan manajemen yang telah disinggung, dikarenakan manajemen dibatasi lingkupnya sebagai pekerjaan catat-menulis.

Pengertian lain dari “manajemen” datang dari bhs inggris “administration” sebagai “the management of executive affairs”. Dengan batasan pengertian layaknya ini maka manajemen disinonimkan dengan “management” satu pengertian didalam lingkup yang lebih luas ( encyclopedia americana, 1978, p. 171 ). Didalam pengertian manajemen pendidikan ini, manajemen tidak cuma pengaturan yang berkenaan dengan pekerjaan catat-menulis, namun pengaturan didalam makna luas.

Manajemen, Kepimpinan, dan Perencanaan



Manajemen adalah aktivitas kerja yang melibatkan koordinasi dan pengawasan terhadap pekerjaan orang lain sehingga pekerjaan tersebut dapat diselesaikan secara efisien dan efektif. Sedangkan manajer adalah anggota organisasi yangg mengawasi dan mengarahkan pekerjaan anggota lain. 

Jumat, 07 Juni 2013

Stres


Kata stres umumnya sering digunakan ketika kita merasa segala sesuatu tampaknya telah menjadi terlalu banyak - kita kelebihan beban dan bertanya-tanya apakah kita benar-benar dapat mengatasi tekanan yang datang kepada kita.
Stres yang jelek adalah stress yang terlalu kuat dan bertahan lama. Stres ini bisa mengganggu jasmani maupun rohani. Misalnya siswa yang mengalami stress terus menerus karena tuntutan belajar yang terlalu berat dan tidak sesuai dengan kemampuan. Stres yang terus menerus bisa juga timbul karena polusi udara dan kebisingan, kepadatan dan kemacetan lalu lintas, tindak kejahatan, beban kerja yang berlebihan. Stres berat juga bisa dialami seseorang karena kehilangan orang yang dicintai dalam kecelakaan atau bencana alam.
Stres yang timbul pada setiap  orang pun bisa berbeda-beda, walaupun peristiwa yang dialami itu sama. Peristiwa tertentu yang membuat seseorang mengalami stres berat bisa saja hanya menimbulkan stres ringan pada orang lain. Bahkan dampak stress itu sendiri bisa berbeda pada setiap orang. Stres yang bagi seseorang dianggap menghancurkan, bagi orang lain bisa merupakan tantangan. Ada orang yang menjadi sangat kreatif dan produktif justru dalam keadaan stress. Ada siswa yang justru baru belajar secara efektif pada saat menjelang ujian.